250 Ternak Impor dari Australia, Dorong Produksi Susu dan Daging NasionalRatusan ternak impor asal Australia tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas genetika peternakan lokal.

250 Ternak Impor dari Australia, Dorong Produksi Susu dan Daging Nasional

Sidoarjo - Sebanyak 250 ekor hewan ternak impor asal Australia tiba di Bandara Internasional Juanda pada Senin (30/3/2026). Kedatangan ternak yang terdiri dari sapi perah, domba unggul, hingga unta ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kualitas genetika peternakan lokal.

Pengiriman ini merupakan bagian dari inisiatif sektor swasta dalam mendukung program pemerintah terkait swasembada pangan dan penyediaan protein hewani berkualitas di Indonesia, khususnya wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Direktur PT Tombak Mas Nusantara, Aji Bagus Setiyawan, menjelaskan bahwa jenis ternak yang didatangkan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik.

“Kami membawa beberapa jenis hewan, terutama domba unggul seperti Dorper, Suffolk, dan Texel. Fokus kami adalah pengembangan bibit agar peternak lokal bisa meningkatkan kualitas ternaknya,” ujar Aji saat ditemui di Juanda.

Ia menambahkan, domba dengan kualitas genetik tinggi tersebut memiliki nilai ekonomi cukup besar. Domba jenis Dorper dan Suffolk dan Texel
Selain itu, perusahaan juga mendatangkan sapi perah guna mendorong peningkatan produksi susu nasional.

Langkah ini diharapkan dapat membantu peternak lokal mempercepat produksi dan memenuhi kebutuhan susu dalam negeri.
Tak hanya itu, puluhan ekor unta  turut diimpor. Hewan tersebut rencananya akan , Jawa Barat, sebagai bagian dari penguatan sektor ekowisata berbasis peternakan.

“Sapi perah kami fokuskan untuk produksi susu, sementara unta akan diarahkan untuk pengembangan wisata edukasi dan ekowisata,” jelasnya.

Seluruh hewan yang tiba dipastikan telah melalui prosedur pemeriksaan kesehatan ketat oleh otoritas bandara dan karantina. Sebelum didistribusikan ke sejumlah daerah seperti Malang dan Lembang, ternak wajib menjalani masa karantina selama 14 hari.

“Sesuai regulasi, seluruh hewan langsung dikarantina di Surabaya untuk memastikan bebas dari penyakit menular sebelum dikirim ke daerah tujuan,” tegas Aji.

Proses pengiriman juga melibatkan tenaga ahli kesehatan hewan dari Australia guna memastikan kondisi ternak tetap prima selama perjalanan internasional.

Dengan masuknya ratusan ternak unggulan ini, diharapkan investasi sektor peternakan semakin meningkat dan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

“Harapannya, peternak lokal bisa berkembang lebih cepat dan produksi protein hewani nasional semakin meningkat,” pungkasnya. (alr)