Surabaya — Rutan Perempuan Surabaya menegaskan komitmennya untuk meningkatkan layanan bagi warga binaan perempuan, khususnya ibu hamil dan pascamelahirkan, menyusul peristiwa meninggalnya seorang warga binaan yang melahirkan di dalam rutan dan meninggalkan bayi berusia dua minggu.
Kepala Rutan Perempuan Surabaya, Yuyun Nurliana, mengatakan rutan telah melakukan langkah maksimal sesuai kemampuan dan prosedur yang ada. Namun ia mengakui, lembaga pemasyarakatan memang tidak dirancang sebagai tempat pengasuhan bayi dalam jangka panjang.
“Fungsi utama rutan adalah penahanan dan pembinaan. Ketika terjadi kondisi darurat seperti ibu bayi meninggal, kami wajib segera mengambil keputusan terbaik demi keselamatan dan masa depan anak,” ujar Yuyun.
Atas dasar itu, rutan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyerahkan bayi tersebut ke Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo agar mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang lebih layak.
Diketahui sebelumnya bayi tersebut lahir dari warga binaan berinisial PDA (39) yang masuk ke Rutan Perempuan Surabaya dalam kondisi hamil. Selama proses persalinan hingga pascamelahirkan, pihak rutan melakukan pendampingan medis sesuai prosedur, termasuk koordinasi dengan tenaga kesehatan.
Namun, sepuluh hari setelah melahirkan, kondisi kesehatan PDA memburuk hingga akhirnya meninggal dunia. Situasi ini membuat rutan menerapkan prosedur darurat perlindungan anak, dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, tumbuh kembang, dan psikologis bayi.
“Keberadaan bayi di lingkungan rutan memiliki risiko. Karena itu, kami menilai penanganan di luar rutan adalah pilihan paling aman,” kata Yuyun.
Rutan Perempuan Surabaya menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam penanganan kasus tersebut. Koordinasi dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo hingga akhirnya bayi diserahkan secara resmi ke Dinas Sosial.
Penyerahan bayi disaksikan Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjamin hak anak meskipun lahir dari keluarga warga binaan.
“Kami mengapresiasi respon cepat pemerintah daerah. Ini menunjukkan negara hadir dan bertanggung jawab,” ujar Yuyun.
Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi internal bagi Rutan Perempuan Surabaya. Pihak rutan berkomitmen memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan dan dinas sosial, terutama dalam penanganan warga binaan perempuan dengan kebutuhan khusus.
Rutan juga mendorong adanya dukungan lintas instansi agar layanan ibu dan anak di lingkungan rutan dapat ditangani lebih cepat, terukur, dan manusiawi di masa mendatang.
“Kami menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran penting. Ke depan, koordinasi dan kesiapsiagaan akan terus kami perkuat agar hak warga binaan dan anak tetap terlindungi,” tegas Yuyun.
Dengan penyerahan bayi ke Dinas Sosial, Rutan Perempuan Surabaya berharap anak tersebut dapat tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat, sementara rutan tetap menjalankan fungsi pembinaan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan komitmen peningkatan layanan yang berkelanjutan. (alr)
Ilustrasi Rutan Perempuan Surabaya Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan Ibu dan Bayi Usai Serahkan Bayi Warga Binaan ke Dinsos 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!