Surabaya , - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bergerak cepat merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan kemanusiaan dikirim dalam bentuk tim pencarian dan pertolongan (SAR), tenaga medis, hingga bantuan logistik seberat 8,4 ton.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk solidaritas masyarakat Jawa Timur terhadap warga NTT yang terdampak bencana.
“Atas nama pribadi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh masyarakat Jawa Timur, saya menyampaikan duka cita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur,” ujar Khofifah di Surabaya, Senin (17/8/2026).
Menurut Khofifah, dukungan Jawa Timur tidak cukup hanya melalui doa dan ungkapan belasungkawa. Bantuan konkret diperlukan untuk mempercepat proses pencarian dan pertolongan, pelayanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
“Jawa Timur hadir untuk NTT. Ketika saudara-saudara kita tertimpa musibah, sudah menjadi panggilan kemanusiaan bagi kita untuk saling menguatkan dan membantu,” katanya.
Tujuh Personel BPBD Jatim Dikirim ke NTT
Respons awal dilakukan BPBD Jawa Timur dengan memberangkatkan tujuh personel advance ke wilayah terdampak pada Minggu (16/8/2026).
Enam personel merupakan bagian dari Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Urban Search and Rescue (USAR). Mereka akan bergabung dengan Basarnas dan unsur SAR lainnya dalam operasi pencarian serta pertolongan korban.
Sementara satu personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) ditugaskan membantu pengumpulan, pemutakhiran, dan sinkronisasi data kebencanaan.
“Enam personel kita memiliki spesifikasi pencarian dan pertolongan. Mereka akan bergabung dan berkoordinasi dengan Basarnas serta tim SAR yang sudah berada di lapangan,” jelas Khofifah.
Selain mendukung operasi SAR, tim advance juga melakukan asesmen kondisi di lapangan. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar untuk memetakan kebutuhan masyarakat serta menentukan bantuan yang perlu dikirim berikutnya.
RSUD Dr Soetomo Kirim Tim Medis
Dukungan Jawa Timur juga diperkuat dengan pengerahan tenaga kesehatan dari RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Tim medis yang diberangkatkan terdiri dari dokter spesialis orthopedi, dokter spesialis anestesi, perawat, serta tenaga teknis. Tim tersebut juga membawa obat-obatan dan peralatan medis yang dibutuhkan untuk penanganan darurat, termasuk tindakan anestesi dan pembedahan.
“Selain pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan bagi korban dan masyarakat di pengungsian juga menjadi hal yang sangat penting. Karena itu, kita juga mengirim dukungan tim kesehatan,” ujar Khofifah.
8,4 Ton Bantuan Logistik Dikirim Lewat Jalur Laut
Pemprov Jatim juga mengirim bantuan logistik tahap awal sebanyak 8,4 ton. Nilai bantuan tersebut mencapai Rp985.816.345.
Bantuan hasil konsolidasi BPBD Jatim bersama sejumlah perangkat daerah tersebut terdiri dari berbagai kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Di antaranya 167 unit kidsware, 125 velbed, 2.024 kaleng makanan siap saji, 432 paket lauk-pauk, serta sejumlah makanan tambahan dan biskuit.
Bantuan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Logistik kemudian diangkut melalui jalur laut menggunakan KM Dharma Rucitra 8 dari Dermaga Jamrud menuju Pelabuhan Soekarno, Ende, NTT.
Setelah tiba di Ende, bantuan akan diserahkan kepada Posko Utama BPBD Provinsi NTT. Selanjutnya, distribusi dilakukan ke wilayah yang membutuhkan berdasarkan hasil asesmen kondisi di lapangan.
Khofifah menegaskan, pengiriman 8,4 ton bantuan tersebut baru merupakan tahap awal. Secara keseluruhan, bantuan dari Jawa Timur diproyeksikan mencapai sekitar 100 ton.
“Yang terpenting bukan hanya seberapa banyak bantuan yang kita kirimkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut bisa segera sampai dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak,” tegasnya.
Pengiriman bantuan tahap berikutnya dijadwalkan pada 20 Agustus 2026 melalui Labuan Bajo.
Jatim Perluas Koordinasi Bantuan
Pemprov Jatim juga membangun koordinasi dengan provinsi-provinsi yang tergabung dalam Mitra Praja Utama (MPU) untuk memperluas dukungan kemanusiaan bagi NTT.
Khofifah menilai penanganan bencana tidak dapat dibatasi oleh wilayah administratif. Seluruh sumber daya yang tersedia harus disinergikan agar bantuan dapat segera menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Bencana tidak mengenal batas wilayah. Hari ini saudara kita di NTT sedang membutuhkan dukungan. Maka seluruh kemampuan yang bisa kita sinergikan harus kita maksimalkan,” tuturnya.
Khofifah turut menyampaikan apresiasi kepada BNPB, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan bencana.
Pemprov Jatim memastikan koordinasi dengan pemerintah pusat dan Pemprov NTT akan terus dilakukan. Bantuan lanjutan akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi serta hasil asesmen tim di lapangan.
“Sekali lagi, duka NTT adalah duka kita bersama. Dari Jawa Timur kami mengirimkan doa, kepedulian dan dukungan terbaik. Semoga saudara-saudara kita di NTT diberikan kekuatan dan ketabahan, dan semoga NTT dapat segera bangkit dan pulih dari bencana ini,” pungkas Khofifah. (alr)
Description: Pemprov Jatim merespons gempa M7,7 NTT dengan mengirim tim SAR, tenaga medis RSUD Dr Soetomo, serta 8,4 ton bantuan logistik senilai Rp985,8 juta. 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!