Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H Digelar di 21 Titik Jawa Timur, Hasilnya Jadi Penentu Awal PuasaTim rukyatul hilal melakukan pemantauan bulan sabit muda saat matahari terbenam untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah.( Foto ilustrasi)

Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H Digelar di 21 Titik Jawa Timur, Hasilnya Jadi Penentu Awal Puasa

Sidoarjo – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur menggelar rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2), bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Pengamatan hilal dilakukan saat matahari terbenam hingga beberapa saat setelahnya di sejumlah titik strategis.

Hasil pemantauan dari berbagai daerah nantinya dilaporkan secara berjenjang sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama RI untuk menetapkan awal Ramadan.

Berdasarkan data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jawa Timur, rukyatul hilal tahun ini dilaksanakan di 21 kabupaten/kota. Lokasi tersebut meliputi Kota Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Kabupaten Blitar, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.

Pemilihan lokasi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi ufuk barat yang terbuka, minim polusi cahaya, kondisi atmosfer yang baik, serta faktor akses dan keamanan.

Kegiatan rukyat melibatkan berbagai pihak, mulai dari jajaran Kementerian Agama, hakim Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, BMKG, ahli ilmu falak, perguruan tinggi, pondok pesantren, hingga tokoh agama dan masyarakat. Kolaborasi ini bertujuan memastikan proses pengamatan berjalan objektif, ilmiah, dan sesuai syariat.

Pengamatan hilal mengacu pada kriteria imkanur rukyat Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Hilal dinyatakan memenuhi kriteria jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam. Elongasi merupakan jarak sudut antara bulan dan matahari yang sangat berpengaruh terhadap peluang terlihatnya hilal.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jawa Timur, Munir, mengatakan rukyatul hilal merupakan bagian dari pelayanan keagamaan negara kepada umat Islam. Ia menegaskan proses pengamatan dilakukan secara profesional dengan melibatkan para ahli dan mengacu pada kriteria yang telah disepakati.

Menurutnya, sejumlah tantangan di lapangan seperti keterbatasan lokasi, akses yang sulit, hingga kondisi cuaca mendung atau awan tebal kerap menjadi faktor penentu keberhasilan rukyat. Meski begitu, pihaknya tetap optimistis dan berkomitmen melaksanakan pengamatan secara transparan dan akuntabel.

“Hasil rukyat akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan Sidang Isbat di tingkat pusat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Kanwil Kemenag Jawa Timur berharap penetapan awal Ramadan 1447 H dapat memberikan kepastian dan ketenangan bagi umat Islam dalam menyambut bulan suci dengan penuh kesiapan dan kekhidmatan.(alr)