Surabaya, Jawa Timur — Proses identifikasi korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, memasuki tahap paling krusial. Tim Disaster Victim Identification (DVI) kini masih berupaya mengenali 14 kantong jenazah yang hingga saat ini belum teridentifikasi karena kondisi tubuh korban yang sudah rusak parah.
Kabid DVI Kapusdokkes Mabes Polri, Kombespol Wahyu Hidajati, dalam keterangan persnya menjelaskan bahwa kondisi jenazah yang kurang bagus membuat metode identifikasi melalui gigi dan medis tidak lagi memungkinkan.Tim DVI kini beralih ke analisis DNA untuk memastikan identitas korban.
“Sampel-sampel yang tersisa ini kondisinya sudah kurang baik, kadar DNA-nya rendah. Sehingga proses pengambilan dan pemeriksaan DNA memerlukan waktu lebih lama,” ujar Kombespol Wahyu saat konferensi pers di RS Bhayangkara Polda Jatim, Sabtu (11/10/2025).
Hingga kini, dari total 67 kantong jenazah yang diterima, dilaporkan 63 orang santri dinyatakan hilang. Tim DVI masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan apakah masih ada identitas baru dari potongan tubuh atau body part yang ditemukan di lokasi reruntuhan.
Wahyu menambahkan, sebanyak 50 korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Sementara proses pemeriksaan DNA terhadap 14 kantong jenazah lainnya masih terus dilakukan di laboratorium DVI Polda Jatim.
“Kami belum bisa memastikan total jumlah korban sampai seluruh proses identifikasi selesai,” imbuhnya.
Diketahui Tragedi ambruknya musala di lingkungan Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran ini menjadi salah satu bencana paling memilukan di Jawa Timur tahun ini. Selain memakan puluhan korban jiwa, proses identifikasi yang kompleks menuntut kesabaran keluarga korban yang masih menanti kabar kepastian nasib anak-anak mereka.(bank)
Kadiv Kapusdokkes Mabes Polri Kombespol Wahyu Hidajati 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!