Solo - Bagi masyarakat Jawa, nama Ki Anom Suroto bukan sekadar dalang ia adalah penjaga gerbang antara masa lalu dan masa depan kebudayaan.
Lahir di Klaten, 11 Agustus 1948, dari rahim keluarga dalang tulen, darah seni seakan mengalir bersama napas pertamanya. Dari sang ayah, Ki Hardjodarsono, dan kakeknya, Ki Hardjomartoyo, ia mewarisi lebih dari sekadar teknik mendalang: ia mewarisi ruh pewayangan itu sendiri.
Blencong lampu minyak yang selalu menemani setiap pentas wayang seolah menjadi saksi perjalanan panjangnya. Dari panggung desa hingga gedung budaya di luar negeri, dari Solo hingga Spanyol, dari Jogja hingga Jerman.
“Wayang itu bukan sekadar tontonan,” pernah ia ucapkan dalam satu wawancara. “Ia adalah cermin kehidupan. Kalau manusia bisa membaca lakon wayang, ia akan mengerti dirinya sendiri.”
Dalang yang Menghidupkan Humor dan Filsafat
Ciri khas Ki Anom bukan hanya pada suara baritonnya yang bergetar gagah, tapi juga kelincahan humornya. Di tengah lakon serius seperti Bharatayudha atau Semar Mbangun Kahyangan, ia bisa menyelipkan guyonan yang membuat penonton terpingkal namun tak kehilangan makna.
“Wayang itu harus hidup,” katanya. “Kalau penonton tertawa, itu tandanya mereka masih nyambung dengan kisahnya.”
Dengan gaya khasnya, ia membuat wayang tidak lagi terasa jauh dari rakyat. Ia menurunkan filsafat tinggi ke bahasa sehari-hari, menjembatani budaya yang kerap dianggap “tua” agar tetap relevan di tengah gempuran digital.
Lakon yang Tak Pernah Usai
Ki Anom adalah dalang lintas zaman. Ketika generasi muda mulai akrab dengan layar gawai, ia tetap berkeliling membawa layar kelir dan gamelan.
Ia tak pernah lelah mengajak anak muda “menyapa leluhur” lewat seni.
Bahkan di usia senja, ia masih aktif dalam festival budaya dan pementasan daring selama pandemi.
Putranya, Ki Bayu Aji, kini meneruskan obor itu. Begitu pula Ki Jatmiko Anom Suroto Putro. Dalam keluarga besar ini, wayang bukan warisan benda tapi napas kehidupan.
Kepergian yang Menyisakan Cahaya
Kini, setelah Ki Anom Suroto berpulang, dunia pedalangan kehilangan salah satu suaranya yang paling jernih. Tapi seperti blencong yang tak pernah benar-benar padam, cahaya dari lakon-lakon yang ia bawakan akan tetap hidup — di hati mereka yang pernah menyaksikan, dan di tangan generasi yang ia didik.
“Dalang itu hidup di antara terang dan bayang-bayang,” ucapnya suatu kali.
Kini, sang dalang telah memasuki babak sunyi mungkin sedang mendalang di hadapan para dewa, di langit yang tak berujung. (bank)
Ilustari Pewayangan Ki Anom Suroto 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!