Surabaya ,- Kasus joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) kembali mencuat di sejumlah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Praktik kecurangan ini terdeteksi di Universitas Negeri Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, serta Universitas Airlangga.
Menanggapi temuan tersebut, pihak kampus langsung memperketat sistem pengawasan demi mencegah praktik serupa terulang. Wakil Rektor I Unesa, Martadi, mengungkapkan bahwa pengawasan kini dilakukan lebih ketat, termasuk pemeriksaan barang bawaan peserta secara menyeluruh.
“Peserta wajib memasukkan tas ke dalam kantong khusus dan dititipkan di luar ruangan. Anehnya, saat ujian berlangsung, banyak ponsel yang masih berbunyi dari tas tersebut,” ujarnya.
Ia juga mengungkap adanya temuan alat komunikasi berukuran sangat kecil yang disembunyikan di tubuh peserta.
“Chip yang ditemukan tidak lebih besar dari biji kedelai dan dimasukkan ke telinga. Ini yang kami antisipasi,” jelasnya.
Sebagai langkah tambahan, peserta yang mengenakan hijab juga diperiksa secara detail oleh petugas perempuan untuk memastikan tidak ada alat tersembunyi.
Sementara itu, Koordinator Pelaksana UTBK Unair, I Made Narsa, menyebut pengawasan dilakukan dengan sistem berlapis. Seluruh ruang ujian dipantau melalui CCTV yang terhubung ke pusat kontrol. Selain itu, peserta juga wajib melewati metal detector sebelum masuk ruangan.
“Pengawas juga kami seleksi ketat. Mereka yang tidak memiliki rekam jejak baik tidak akan dilibatkan,” tegasnya.
Langkah serupa juga diterapkan di kampus lain, termasuk penguatan sistem keamanan dan peningkatan integritas pengawas. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas UTBK sebagai jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi. (alr)
Kasus joki UTBK terungkap di Surabaya. Sejumlah kampus seperti Unesa, Unair, dan UPN Veteran Jatim perketat pengawasan dengan CCTV hingga deteksi chip mini. 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!