Grobogan - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini mempercepat proses klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) guna membantu petani yang terdampak banjir Grobogan 2026. Langkah tersebut diambil sebagai upaya meringankan kerugian akibat tanaman padi yang rusak setelah terendam air selama beberapa hari.
Kepala BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, menjelaskan banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu pada Minggu (15/2/2026) malam. Curah hujan tinggi menyebabkan beberapa sungai meluap, di antaranya Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi.
“Banjir merendam sekitar 45 desa di beberapa kecamatan. Selain ribuan keluarga terdampak, lahan pertanian juga mengalami kerusakan cukup parah,” ujar Wahyu, Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan pemantauan di lapangan, ketinggian air di area persawahan masih berkisar antara 50 hingga 100 sentimeter. Tanaman padi berusia sekitar 1,5 bulan terlihat rusak berat akibat tertimbun lumpur dan genangan air yang belum sepenuhnya surut.
Jeritan Petani dan Ancaman Gagal Panen
Para petani mulai merasakan dampak kerugian yang signifikan. Warsito (45), petani asal Kecamatan Klambu, mengaku tanaman padinya kemungkinan besar tidak bisa diselamatkan karena terendam banjir sejak Senin (16/2/2026).
“Sudah hampir pasti gagal panen, karena sawah terendam beberapa hari. Banyak tanaman mati dan hanyut terbawa arus,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Slamet (59), petani dari Kecamatan Godong. Ia menyebut kerugian modal petani diperkirakan mencapai Rp12 juta per hektare, mencakup biaya bibit, pupuk, hingga tenaga kerja.
Percepatan Klaim AUTP
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menegaskan pentingnya pendataan lapangan yang akurat untuk mempercepat proses klaim asuransi. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) telah diterjunkan ke desa-desa terdampak guna melakukan verifikasi kerusakan.
“Petani yang memiliki polis AUTP diimbau segera melaporkan kerusakan lahan kepada petugas lapangan agar proses verifikasi ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) bisa dilakukan sebelum batas waktu satu pekan,” jelasnya.
Meski ribuan hektare sawah terendam, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap optimistis target produksi padi sebesar 8,3 juta ton pada 2026 masih dapat tercapai. Optimisme tersebut didasarkan pada pengalaman penanganan bencana sebelumnya yang mampu menjaga stabilitas produksi.
Hingga saat ini, BPBD, Dinas Pertanian, serta pihak asuransi terus memperkuat koordinasi guna memastikan bantuan dan ganti rugi bagi petani terdampak banjir Grobogan dapat tersalurkan tepat waktu.(ord)
Ribuan hektare lahan padi rusak dan petani kini menunggu proses klaim asuransi usaha tani untuk menekan kerugian.(Foto ilustrasi) 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!