Semarang  Heritage Belum Tangguh Hadapi HujanSemarang kembali terendam air

Semarang Heritage Belum Tangguh Hadapi Hujan

SEMARANG – Kawasan bersejarah Kota Lama Semarang kembali menjadi langganan banjir usai diguyur hujan deras sejak Selasa (28/10/2025) pagi. Genangan air yang merendam jalan-jalan di sekitar Museum Kota Lama menegaskan betapa rapuhnya sistem drainase di kawasan wisata unggulan Jawa Tengah itu.

Air setinggi betis hingga pinggang orang dewasa terlihat menutupi jalan di sejumlah titik seperti Tlogosari, Pedurungan, hingga terowongan Universitas Semarang (USM). Aktivitas warga dan lalu lintas tersendat, sementara sebagian pekerja memilih menunda keberangkatan ke kantor.

“Kalau sudah hujan deras, ya pasti banjir. Di Kota Lama itu kayak sudah langganan tiap tahun,” keluh Kevin (27), warga yang melintas di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Purwodinatan.

Relawan penanggulangan banjir, Deas (28), menyebut kawasan terparah berada di Tlogosari dan terowongan USM. “Sekolah Farmasi di sana sudah tidak bisa dilalui kendaraan apa pun. Air sepinggang, dan hanya bisa dilewati perahu karet,” ujarnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan klasik yang belum terpecahkan di Kota Semarang—kawasan heritage yang indah di mata wisatawan, namun lemah di urusan pengelolaan air dan infrastruktur perkotaan.

Pemerhati tata kota dari Universitas Diponegoro, (nama fiktif) Dwi Hartanto, mengatakan banjir yang berulang menandakan sistem drainase kota belum mampu mengimbangi perubahan cuaca ekstrem.

“Kota Lama harusnya jadi contoh kota bersejarah yang adaptif terhadap iklim, bukan korban banjir tahunan,” katanya.

Warga berharap pemerintah kota segera menindaklanjuti penataan saluran air, terutama di jalur wisata dan pendidikan seperti USM dan kawasan Kaligawe. Sebab, di tengah ambisi Semarang menjadi “Smart Heritage City”, genangan air masih menjadi potret nyata lemahnya daya tahan kota menghadapi hujan. (Orde)